MAKALAH AGAMA
T E N T A N G
“TAQWA”
DOSEN
: Dr.TGK ANWAR ST, M.Ag, MT
DISUSUN
OLEH :
MUHAMMAD RIDHA FASHA
(160130124)
FAKULTAS
TEKNIK JURUSAN TEKNIK INDUSTRI
UNIVERSITAS
MALIKUSSALEH
2017
DAFTAR
ISI
BAB
I PENDAHULUAN
LATAR
BELAKANG ......................................................................................... 1
RUMUSAN
MASALAH ..................................................................................... 3
BAB
II PEMBAHASAN
PENGERTIAN
TAQWA .................................................................................... 4
RUANG
LINGKUP TAQWA
............................................................................ 6
CIRI-CIRI
ORANG BERTAQWA
...................................................................11
BAB
III PENUTUP
SIMPULAN
.........................................................................................................13
DAFTAR
PUSTAKA
BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Taqwa
adalah kumpulan semua kebaikan yang hakikatnya merupakan tindakan seseorang
untuk melindungi dirinya dari hukuman Allah dengan ketundukan total kepada-Nya.
Asal-usul taqwa adalah menjaga dari kemusyrikan, dosa dari kejahatan dan
hal-hal yang meragukan (syubhat).
Seruan
Allah pada surat Ali Imran ayat 102 yang berbunyi, “Bertaqwalah kamu sekalian
dengan sebenar-benarnya taqwa dan janganlah kamu sekali-kali mati kecuali dalam
keadaan muslim”, bermakna bahwa Allah harus dipatuhi dan tidak ditentang,
diingat dan tidak dilupakan, disyukuri dan tidak dikufuri.
Taqwa
adalah bentuk peribadatan kepada Allah seakan-akan kita melihat-Nya dan jika
kita tidak melihat-Nya maka ketahuilah bahwa Dia melihat kita. Taqwa adalah tidak
terus menerus melakukan maksiat dan tidak terpedaya dengan ketaatan. Taqwa
kepada Allah adalah jika dalam pandangan Allah seseorang selalu berada dalam
keadaan tidak melakukan apa yang dilarang-Nya, dan Dia melihatnya selalu.
Umar
bin Abdul Aziz rahimahullah juga menegaskan bahwa “ketakwaan bukanlah
menyibukkan diri dengan perkara yang sunnah namun melalaikan yang wajib”.
Beliau rahimahullah berkata, “Ketakwaan kepada Allah bukan sekedar dengan
berpuasa di siang hari, sholat malam, dan menggabungkan antara keduanya. Akan
tetapi hakikat ketakwaan kepada Allah adalah meninggalkan segala yang
diharamkan Allah dan melaksanakan segala yang diwajibkan Allah. Barang siapa
yang setelah menunaikan hal itu dikaruni amal kebaikan maka itu adalah kebaikan
di atas kebaikan
Termasuk
dalam cakupan takwa, yaitu dengan membenarkan berbagai berita yang datang dari
Allah dan beribadah kepada Allah sesuai dengan tuntunan syari’at, bukan dengan
tata cara yang diada-adakan (baca: bid’ah). Ketakwaan kepada Allah itu dituntut
di setiap kondisi, di mana saja dan kapan saja. Maka hendaknya seorang insan
selalu bertakwa kepada Allah, baik ketika dalam keadaan tersembunyi/sendirian
atau ketika berada di tengah keramaian/di hadapan orang (lihat Fath al-Qawiy
al-Matin karya Syaikh Abdul Muhsin al-’Abbad hafizhahullah
B. Rumusan Masalah
1. Apa itu taqwa?
2. Bagaimana ruang lingkup taqwa?
3. Bagaimana ciri- ciri orang bertaqwa?
C. Tujuan Penulisan
1. Ingin mengetahui apa itu taqwa?
2. Ingin mengetahui bagaimana ruang lingkup
taqwa?
3. Ingin mengetahui bagaimana ciri- ciri
orang bertaqwa?
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian, Kedudukan dan RuangLingkup Taqwa
1.
Pengertian dan Kedudukan Taqwa
Taqwa
berasal dari kata waqa, yaqi dan wiqayah yang berarti takut, menjaga,
memelihara dan melindungi. Maka taqwa dapat diartikan sebagai sikap memelihara
keimanan yang diwujudkan dalam pengalaman ajaran agama islam. Taqwa secara
bahasa berarti penjagaan/ perlindungan yang membentengi manusia dari hal-hal
yang menakutkan dan mengkhawatirkan. Oleh karena itu, orang yang bertaqwa
adalah orang yang takut kepada Allah berdasarkan kesadaran dengan mengerjakan
perintah-Nya dan tidak melanggar larangan-Nya kerena takut terjerumus ke dalam
perbuatan dosa.
Taqwa
adalah sikap mental seseorang yang selalu ingat dan waspada terhadap sesuatu
dalam rangka memelihara dirinya dari noda dan dosa, selalu berusaha melakukan
perbuatan-perbuatan yang baik dan benar, pantang berbuat salah dan melakukan
kejahatan pada orang lain, diri sendiri dan lingkungannya.
Dari
berbagai makna yang terkandung dalam taqwa, kedudukannya sangat penting dalam
agama islam dan kehidupan manusia karena taqwa adalah pokok dan ukuran dari
segala pekerjaan seorang muslim.
Umar
bin Abdul Aziz rahimahullah juga menegaskan bahwa “ketakwaan bukanlah
menyibukkan diri dengan perkara yang sunnah namun melalaikan yang wajib”.
Beliau rahimahullah berkata, “Ketakwaan kepada Allah bukan sekedar dengan
berpuasa di siang hari, sholat malam, dan menggabungkan antara keduanya. Akan
tetapi hakikat ketakwaan kepada Allah adalah meninggalkan segala yang
diharamkan Allah dan melaksanakan segala yang diwajibkan Allah. Barang siapa
yang setelah menunaikan hal itu dikaruni amal kebaikan maka itu adalah kebaikan
di atas kebaikan.
Termasuk
dalam cakupan takwa, yaitu dengan membenarkan berbagai berita yang datang dari
Allah dan beribadah kepada Allah sesuai dengan tuntunan syari’at, bukan dengan
tata cara yang diada-adakan (baca: bid’ah). Ketakwaan kepada Allah itu dituntut
di setiap kondisi, di mana saja dan kapan saja. Maka hendaknya seorang insan
selalu bertakwa kepada Allah, baik ketika dalam keadaan tersembunyi/sendirian
atau ketika berada di tengah keramaian/di hadapan orang (lihat Fath al-Qawiy
al-Matin karya Syaikh Abdul Muhsin al-’Abbad hafizhahullah
2.
Ruang lingkup Taqwa
Hubungan
manusia dengan Allah SWT
Hubungan
manusia dengan hati nuranui dan dirinya sendiri
Hubungan
manusia dengan sesama manusia
Hubungan
manusia dengan lingkungan hidup
Hubungan
dengan Allah SWT
Seorang
yang bertaqwa (muttaqin) adalah seorang yang menghambakan dirinya kepada Allah
SWT dan selalu menjaga hubungan dengannya setiap saat sehingga kita dapat
menghindari dari kejahatan dan kemunkaran serta membuatnya konsisten terhadap
aturan-aturan Allah. Memelihara hubungan dengan Allah dimulai dengan
melaksanakan ibadah secara sunguh-sungguh dan ikhlas seperti mendirikan shalat
dengan khusyuk sehingga dapat memberikan warna dalam kehidupan kita,
melaksanakan puasa dengan ikhlas dapat melahirkan kesabaran dan pengendalian
diri, menunaikan zakat dapat mendatangkan sikap peduli dan menjauhkan kita dari
ketamakan. Dan hati yang dapat mendatangkan sikap persamaan, menjauhkan dari
takabur dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Segala perintah-perintah Allah
tersebut ditetapkannya bukan untuk kepentingan Allah sendiri melainkan
merupakan untuk keselamatan manusia.
Ketaqwaan
kepada Allah dapat dilakukan dengan cara beriman kepada Allah menurut cara-cara
yang diajarkan-Nya melalui wahyu yang sengaja diturunkan-Nya untuk menjadi
petunjuk dan pedoman hidup manusia, seperti yang terdapat dalam surat Ali-imran
ayat 138 yang artinya:
“inilah
(Al-quran) suatu ketenangan bagi manusia dan petunjuk serta pelajaran bagi
orang-orang yang bertaqwa “. (QS. Ali-imran 3:138)
manusia
juga harus beribadah kepada Allah dengan menjalankan shalat lima waktu,
menunaikan zakat, berpuasa selama sebulan penuh dalam setahun, melakukan ibadah
haji sekali dalam seumur hidup, semua itu kita lakukan menurut
ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan-Nya. Sebagai hamba Allah sudah
sepatutnya kita bersyukur atas segala nikmat yang telah diberikan-Nya, bersabar
dalam menerima segala cobaan yang diberikan oleh Allah serta memohon ampun atas
segala dosa yang telah dilakukan.
Hubungan
manusia dengan dirinya sendiri
Selain
kita harus bertaqwa kepada Allah dan berhubungan baik dengan sesama serta
lingkungannya, manusia juga harus bisa menjaga hati nuraninya dengan baik
seperti yang telah dicontohkan oleh nabi Muhammad SAW dengan sifatnya yang
sabar, pemaaf, adil, ikhlas, berani, memegang amanah, mawas diri dll. Selain
itu manusia juga harus bisa mengendalikan hawa nafsunya karena tak banyak
diantara umat manusia yang tidak dapat mengendalikan hawa nafsunya sehingga semasa
hidupnya hanya menjadi budak nafsu belaka seperti yang tertulis dalam Al-quran
Surat Yusuf ayat 53 yang artinya:
“Dan
aku tidak membebaskan diriku (berbuat kesalahan), sesungguhnya nafsu itu
menyuruh kepada kejahatan, kecuali siapa yang diberi rahmat oleh tuhanku.
Sesungguhnya tuhanku maha pengampum lagi maha penyayang”. (QS. Yusuf 12:53)
Maka
dari itu umat manusia harus bertaqwa kepada Allah dan diri sendiri agar mampu
mengendalikan hawa nafsu tersebut. Ketaqawaan terhadap diri sendiri dapat
ditandai dengan ciri-ciri, antara lain :
1)
Sabar
2)
Tawaqal
3)
Syukur
4)
Berani
Sebagai
umat manusia kita harus bersikap sabar dalam menerima apa saja yang datang
kepada dirinya, baik perintah, larangan maupun musibah. Sabar dalam menjalani
segala perintah Allah karena dalam pelaksanaan perintah tersebut terdapat upaya
untuk mengendalikan diri agar perintah itu bisa dilaksanakan dengan baik.
Selain bersabar, manusia juga harus selalu berusaha dalam menjalankan segala
sesuatu dan menyerahkan hasilnya kepada Allah (tawaqal) karena umat manusia
hanya bisa berencana tetapi Allah yang menentukan, serta selalu bersyukur atas
apa yang telah diberikan Allah dan berani dalam menghadapi resiko dari seemua
perbuatan yang telah ditentukan.
Hubungan
manusia dengan manusia
Agama
islam mempunyai konsep-konsep dasar mengenai kekeluargaan, kemasyarakatan,
kebangasaan dll. Semua konsep tersebut memberikan gambaran tentang
ajaran-ajaran yang berhubungan dengan manusia dengan manusia (hablum minannas)
atau disebut pula sebagai ajaran kemasyarakatan, manusia diciptakan oleh Allah
terdiri dari laki-laki dan perempuan. Mereka hidup berkelompok-kelompok,
berbangsa-bangsa dan bernegara. Mereka saling membutuhkan satu sama lain
sehingga manusia dirsebut sebagai makhluk social. Maka tak ada tempatnya
diantara mereka saling membanggakan dan menyombongkan diri., sebab kelebihan
suatu kaum tidak terletak pada kekuatannya, harkat dan martabatnya, ataupun
dari jenis kelaminnya karena bagaimanapun semua manusia sama derajatnya dimata
allah, yang membedakannya adalah ketaqwaannya. Artinya orang yang paling
bertaqwa adalah orang yang paling mulia disisi allah swt.
Hubungan
dengan allah menjadi dasar bagi hubungan sesama manusia. Hubungan antara
manusia ini dapat dibina dan dipelihara antara lain dengan mengembangkan cara
dan gaya hidupnya yang selaras dengan nilai dan norma agama, selain itu sikap
taqwa juga tercemin dalam bentuk kesediaan untuk menolong orang lain,
melindungi yang lemah dan keberpihakan pada kebenaran dan keadilan. Oleh karena
itu orang yang bertaqwa akan menjadi aktor penggerak, gotong royong dan kerja
sama dalam segala bentuk kebaikan dan kebijakan.
Surat
Al-baqarah ayat 177:
“Bukanlah
menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatukebajikan, akan tetapi
sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada allah, hari kemudian, malaikat,
kitab, nabi, danmemberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak yatim,
oaring miskin, musafir(yang memerlukan pertolongan), dan orang-orangyang
meminta-minta, dan (merdekakanlah)hamba sahaya, mendirikan shalat danmenunaikan
zakat. Dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji dan orang
yang bersabar dalam kesempatan, penderitaan, dan dalam peperangan. Mereka
itulah orang yang benar(imannya)mereka itulah orang yang bertaqwa. (Al- baqarah
2:177).
Dijelaskan
bahwa ciri-ciri orang bertaqwa ialah orang yang beriman kepada Allah, hari
kemudian, malaikat dan kitab Allah. Aspek tersebut merupakan dasar keyakinan
yang dimiliki orang yang bertaqwa dan dasar hubungan dengan Allah. Selanjutnya
Allan menggambarkan hubungan kemanusiaan, yaitu mengeluarkan harta dan
orang-orang menepati janji. Dalam ayat ini Allah menggambarkan dengan jelas dan
indah, bukan saja karena aspek tenggang rasa terhadap sesama manusia dijelaskan
secara terurai, yaitu siapa saja yang mesti diberi tenggang rasa, tetapi juga
mengeluarkan harta diposisikan antar aspek keimanan dan shalat
Hubungan
Manusia dan Lingkungan Hidup
Taqwa
dapat di tampilkan dalam bentuk hubungan seseorang dengan lingkungan hidupnya.
Manusia yang bertakwa adalah manusia yang memegang tugas kekhalifahannya di
tengah alam, sebagai subjek yang bertanggung jawab menggelola dan memelihara
lingkungannya. Sebagai penggelola, manusia akan memanfaatkan alam untuk
kesejahteraan hidupnya didunia tanpa harus merusak lingkungan disekitar mereka.
Alam dan segala petensi yang ada didalamnya telah diciptakan Allah untuk diolah
dan dimanfaatkan menjadi barang jadi yang berguna bagi manusia.
Alam
yang penuh dengan sumber daya ini mengharuskan manusia untuk bekerja keras menggunakan
tenaga dan pikirannya sehingga dapat menghasilkan barang yang bermanfaat bagi
manusia. Disamping itu, manusia bertindak pula sebagai penjaga dan pemelihara
lingkungan alam. Menjaga lingkunan adalah memberikan perhatian dan kepedulian
kepada lingkungan hidup dengan saling memberikan manfaat. Manusia memanfaatkan
lingkungan untuk kesejahteraan hidupnya tanpa harus merusak dan merugikan
lingkungan itu sendiri.
Orang
yang bertaqwa adalah orang yang mampu menjaga lingkungan dengan sebaik-baiknya.
Ia dapat mengelola lingkungan sehingga dapat bermanfaat dan juga memeliharanya
agar tidak habis atau musnah. Fenomena kerusakan lingkungan sekarang ini
menunjukan bahwa manusia jauh dari ketaqwaan. Mereka mengeksploitasi alam tanpa
mempedulikan apa yang akan terjadi pada lingkungan itu sendiri dimasa depan
sehingga mala petaka membayangi kehidupan manusia. Contoh dari mala petaka itu
adalah hutan yang dibabat habis oleh manusia mengakibatkan bencana banjir dan
erosi tanah sehingga terjadi longsor yang dapat merugikan manusia.
Bagi
orang yang bertaqwa, lingkungan alam adalah nikmat Allah yang harus disyukuri
dengan cara memenfaatkan dan memelihara lingkungan tersebut dengan
sebaik-baiknya. Disamping itu alam ini juga adalah amanat yang harus dipelihara
dan dirawat dengan baik. Mensyukuri nikmat Allah dengan cara ini akan menambah
kualitas nikmat yang diberikan oleh Allah kepada manusia. Sebaliknya orang yang
tidak bersyukur terhadap nikmat Allah akan diberi azab yang sangat menyedihkan.
Azab Allah dalam kaitan ini adalah bencana alam akibat eksploitasi alam yang
tanpa batas karena kerusakan manusia.
3.
Ciri- ciri Orang Bertaqwa
Jikalau
sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan
melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka
mendustakan (ayat-yat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan
perbuatannya. (QS.7:96)
Ciri-
ciri Orang Taqwa Menurut Al-qur'an
A. Surat al baqarah 2 - 5 :Al Kitab ini (Al
Quran) adalah petunjuk buat orang yang bertaqwa, dengan ciri sebagai berikut:
1. Beriman pada yang ghaib
2. Mendirikan salat
3. Menafkahkan sebagaian rezeki yang ALlah
kurniakan kepadanya
4. Beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu
(Muhammad saw) dan sebelum mu.
5. Yakin kepada hari akhirat.
Setiap
manusia tak kira agama apapun memungkinkan untuk menjadi insan yang taqwa,
Mendirikan salat misalnya, Dalam bahasa melayu "salat" disebutnya
juga sembahyang.Setiap agama mengajarkan sembahyang, Hanya cara, metode, waktu
dan tempat yang berbeda-beda.
B. Surat Al baqarah 177, Mereka itulah
orang-orang yang benar dan mereka itulah
orang-orang yang bertaqwa dengan ciri-ciri sbb :
1. Beriman kepada Allah(Tuhan YME),hari
akhirat,malaikat-malaikat,kitab-kitab,nabi-nabi
2. Memberikan harta yang dicintainya kepada
kerabat,anak-anak yatim,orang-orang miskin,musafir (orang dalam
perjalanan),orang yang meminta-minta.
3. Membebaskan perbudakan
4. Mendirikan salat
5. Menunaikan zakat
6. Memenuhi janji bila berjanji
7. Bersabar dalam dalam
kesengsaraan,penderitaan dan dalam waktu peperangan.
C. Surat Aali 'Imraan 133 - 135, "Dan
bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhan mu dan surga yang luasnya seluas
langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang bertaqwa, yaitu :
1. Orang-orang yang menafkahkan (hartanya)
pada waktu lapang maupun sempit
2. Orang-orang yang menahan amarahnya
3. Orang-orang yang memaafkan kesalahan
orang lain
4. Dan (juga) orang-orang yang apabila
berbuat keji atau zalim terhadap dirinya, mereka ingat kepada ALLAH, dan
memohon ampun atas dosa-dosanya.
5. Dan Mereka tidak meneruskan perbuatan
kejinya itu.
BAB
III
PENUTUP
A.
Simpulan
Amal
ibadah itu sama, ada yang lahir maupun yang batin adalah syariat. Kita beramal dan
bersyariat untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Untuk mendapat ridho, kasih
sayang dan kekuasaan Allah. Untuk mendapat pemeliharaan, perlindungan dan
keselamatan dari Allah. Atau dengan kata lain, untuk mendapat taqwa. Segala
amalan itu untuk menambah taqwa. Kerana Allah hanya menerima ibadah dari
orang-orang yang bertaqwa. Allah hanya membela, membantu dan melindungi
orang-orang yang bertaqwa. Hanya orang-orang yang bertaqwa saja yang akan
selamat di sisi Allah Ta’ala.
Dari
berbagai makna yang terkandung dalam taqwa, kedudukannya sangat penting dalam
agama islam dan kehidupan manusia karena taqwa adalah pokok dan ukuran dari
segala pekerjaan seorang muslim.
Taqwa
tidak hanya berhubungan dengan Allah swt, tetapi juga berhubungan dengan
manusia dengan dirinya sendiri, antar sesama manusia, dan dengan Lingkungan
Hidup.
DAFTAR
PUSTAKA
file:///F:/agama/Makalah-Agama-Taqwa.html
Azra.
Azumardi, Dr. Prof. Dkk, Pendidikan Agama Islam pada Perguruan Tinggi
Umum:
Jakarta. 2002
Cholid,
M, Drs. M, M.Ag, dkk. Pendidikan Agama Islam untuk Perguruan
Tinggi,
Bandung:STPDN Press, 2003

Komentar
Posting Komentar